Rabu, 25 November 2009
Anekdot: Tuhan Saya Google (2)
Buat anak-anak muda agnostik, Google adalah bentuk keilahian yang bisa menjawab semua keluh-kesah mereka. Adakah Rasul yang perintahkan Sang Google? Saya masih harus banyak merenung tentang hakikat keilahian pada era internet ini.
Boleh jadi, inilah satu bentuk kemahatahuan Tuhan: mendekati semua manusia, menggunakan semua bahasa manusia, melalui media Google. Jadi, secara sederhana, bukanlah bentuk emanasi Tuhan yang turun ke dunia dalam bentuk Google. Tuhan masih tetap bersemayam pada singgasana ('Arsy), dan karena kasih-sayangnya pada semua manusia, Ia mendekati semua manusia yang haus rasa keingintahuannya, tapi Tuhan bukanlah rasa keingintahuan itu sendiri. Ia hadir mendekati manusia menggunakan bahasa manusia yang berbeda-beda, tapi Tuhan tidak berwujud bahasa. Ia hadir mendekati semua manusia melalui media internet, tapi Tuhan tidak berwujud internet. Ia hadir di dalam Google, tapi bukan Google itu sendiri.
Boleh jadi, inilah satu bentuk kasih sayang Tuhan pada manusia modern: ketika manusia menitipkan sebagian memorinya ke ruang handphone, ke ruang harddisk, ke ruang situs, ke dalam catatan harian, atau apapun; maka kemahatahuan Tuhan pun berada pada ruang memori virtual (luar otak). Jika selama ini kemahatahuan Tuhan "menyelinap" ke dalam ruang memori otak manusia, sehingga Tuhan lebih dekat di banding urat-nadi manusia itu sendiri, maka pada hari ini, Tuhan "menyelinap" ke dalam setiap ruang memori virtual (luar otak) yang telah dikembangkan manusia.
Bajikkah Tuhan? Bijakkah Tuhan? Selama ini kebajik-bijakan Tuhan "menyelinap" ke dalam hati nurani manusia. Mungkin, sejak hari ini, Tuhan akan "menyelinap" ke dalam media lain, ketika hati nurani manusia dipindahkan ke ruang virtual hati. Entah siapa yang menciptakan. Entah apa namanya!
KEPADA SANG PRODUSER
Bagi saya, teater dan film adalah saudara kandung. Tidak persis sama, tetapi memiliki akar tradisi dan prinsip-prinsip yang sama dalam pengelolaannya. Dengan demikian seorang aktris panggung mudah melakukan mutasi menjadi menjadi seorang bintang film. Anak-anak teater dari Gelanggang Remaja Bulungan (Jakarta Selatan) banyak yang mutasi menjadi aktor/aktris film. Begitu halnya dengan seorang sutradara teater, juga dapat dengan mudah mengubah diri menjadi sutradara film. Contoh klasik dan yang sukar untuk dilampaui adalah Arifin C. Noer dan Teguh Karya.
Oleh karena teater dan film adalah saudara kandung, maka terdapat irisan besar dalam membicarakan seluk-beluk teater dan film. Perbedaan prinsipnya terutama terletak pada produk: teater mengejawantah hanya pada panggung teater, tetapi film bisa mengejawantah dalam bentuk media seluloid, cakram VCD/DVD, atau pita VHS. Selebihnya, dalam segi manajemen produksi dan manajemen artistik, memiliki prinsip-prinsip yang serupa.
Dari dua paradigma itu, tidak terlalu keliru jika ketika terjadi perdebatan antara saya (yang memiliki akar pengetahuan pada manajemen artistik panggung) dengan seorang produser televisi (yang karena pengalamannya bersentuhan dengan media audio visual) perlu diperjelas di sini. Saya tidak berpretensi bahwa perdebatan ini merupakan sebuah ikon dari peristiwa budaya kait-mengait antara teater dengan film. Saya menulis karena saya mengalaminya, lebih dari itu, saya membutuhkan katarsis, meminta penjelasan publik yang lebih paham mengenai fokus perdebatan ini agar saya puas.
/2/ INTI PERDEBATAN: PENULIS NASKAH ATAU NASKAH?
Saya adalah salah satu anggota dari suatu tim kreatif yang bekerja untuk broadcast. Pada salah satu kerjasama yang kami lakukan, kami mengikat sebagai anggota tim kreatif sebuah acara entertainment salah satu stasiun televisi. Setiap minggu kami melakukan brain storming untuk menghasilkan sinopsis apa saja yang layak disajikan kepada pemirsa televisi. Dari sinopsis yang disetujui oleh produser televisi, kemudian dibuat naskah oleh penulis yang kami tunjuk. Peristiwa ini sudah berlangsung selama satu tahun. Meski dengan naik turunnya rating dan sharing tayangan, tetapi alhamdulillah, tayangan itu masih ada yang menonton.
Minggu lalu saya tersandung pada sebuah perdebatan serius, ketika saya mengomentari ucapan salah satu produser. Kronologis perbedabatan itu dimulai dari “kewajiban hadir” para penulis naskah.
Pada beberapa waktu yang sebelum terjadi perdebatan, produser meminta penulis naskah “wajib hadir” pada saat naskahnya diangkat ke jenjang shooting, meskipun dia memberi catatan sebagai sebuah “kewajiban moral” belaka. Tujuannya agar bisa memberikan koreksi yang perlu, apabila aktor/aktris tidak dapat mengungkapkan isi naskah sesuai yang dimaui oleh penulis. Untuk tujuan baik ini, para penulis naskah akhirnya memenuhi permintaan produser.
Karena seringnya hadir dalam aktivitas shooting, para penulis akhirnya terperangkap pada idiom-idiom stereotif para aktor/aktris. Beberapa improvisasi aktor/aktris terhadap isi naskah, entah disadari atau tidak, terekam pada kepala penulis, dan akhirnya menjadi teks pada produk naskah yang muncul berikutnya. Singkatnya, penulis akhirnya terkontaminasi oleh idiom-idiom stereotif pada aktor/aktris. Meski dalam hal kreativitas bukanlah hal haram untuk “menangkap inspirasi itu” dari para aktor/aktris, tetapi kekeliruan para penulis kami adalah memproduksinya untuk disajikan pada televisi yang sama, pada tayangan yang sama dan pada aktor/aktris yang sama. Hal ini membuat Sang Produser melontarkan kritik konstruktif pada Tim Kreatif, bahwa kami tidak lagi kreatif.
Dalam hal ini saya mengomentari kritik Sang Produser. Salah satu kalimat yang mengundang perdebatan adalah ketika saya melakukan komentar demikian, “Itulah pentingnya para penulis diisolasi dari aktivitas shooting, supaya mereka tidak terkontaminasi oleh idiom-idiom stereotif para pemain.” Kalimat ini membuat Sang Produser berang, mematahkan komentar saya dengan sejumlah argumen, menuduh saya sebagai orang yang tidak mengerti apa-apa dalam hal pertelevisian, dan memandang saya sebagai orang yang “tidak terlibat” dalam proses kreatif sistem produksi yang Sang Produser pimpin.
Saya akhirnya diam, mengalah, dan menganggap tidak produktif, apalagi mencerahkan. Apalagi saya hanya merupakan bagian kecil dari anggota kreatif, dan tentu saja, seperti yang Sang Produser katakan, saya “bukanlah yang terpenting” dan bahkan saya dianggap “tidak penting”. Apalagi saya harus menyadari, bahwa tim Kreatif tempat saya berhimpun, hanyalah institusi luar yang menjadi bagian subordinasi dari sistem produksi Stasiun Televisi dalam satu ikatan kerjasama. Intinya saya diam dan mengalah karena buat saya hal itu tidak mencerahkan dan mungkin ini dapat dipandang sebagai langkah penyelamatan bagi kami untuk tidak mengalami perbenturan lebih jauh.
Saya pulang lebih awal dari jadwal. Saya meninggalkan teman-teman dan Sang Produser tanpa pamit. Tapi sesampai di luar gedung stasiun TV yang megah itu saya merenung dalam diam: Yang dibutuhkan dalam sistem produksi itu “naskah” atau “penulis naskah”?
/3/ MEMBUKA PENGALAMAN BERTEATER DAN REFERENSI
Pengalaman berteater saya memang tidak sempurna: tidak berguru pada seorang maestro, tidak pernah berhasil hingga menjadi seorang aktor, dan tidak menjadi seorang pekerja panggung yang sungguh-sungguh. Dari yang tidak sempurna itu saya memperoleh pengalaman kreatif, yang salah satunya adalah, Apabila naskah sudah “jadi”, maka penulisnya kita “bunuh”.
Penulis dan naskah memang dua dunia yang berbeda. Penulis adalah orang yang menghayati dunia sedangkan “naskah” adalah dunia ciptaan penulis. Ketika naskah sudah “jadi”, maka “naskah” menjadi sumber kreatif dan sepenuhnya menjadi hak bagi seorang Sutradara (Manajer Artistik) untuk mengejawantahkannya, baik dalam bentuk panggung maupun dalam bentuk film. Penulis naskah bahkan tidak berhak mengoreksi hasil interpretasi Sang Sutradara terhadap naskah yang diinterpretasikan itu.
Begitu otonomnya “naskah” sehingga dalam literatur-literatur teater “naskah” (bukan penulis naskah) merupakan komponen produksi yang sejajar kedudukannya dengan “manajer produksi” (baca: produser) dan “manajer artistik” (baca: sutradara). Di antara miskinnya literatur teater dan film, tulisan populer yang masih dapat ditemui mengenai ini, antara lain dapat ditemukan pada karya N. Riantiarno, Menyentuh Teater, Tanya Jawab Seputar Teater Kita, Program Bimbingan Anak SAMPOERNA, 2003.
Sialnya, semua argumen pengalaman berteater dan referensi teater itu, belakangan, dinaifkan begitu saja oleh salah seorang teman: Tapi ini lain, sobat: ini produksi audio visual, bukan produksi teater!
Ya, mungkin karena awamnya saya dalam sistem produksi audio-visual. Tapi coba bayangkan seandainya sebuah stasiun televisi atau sebuah rumah produksi akan mengangkat novel “Siti Nurbaya” menjadi adegan panggung atau film, niscaya akan kesulitan untuk menghadirkan penulis novel itu. Jika Anda akan mengangkat “Romeo and Juliet”-nya William Shakespeare, atau “Ghost”-nya Hendrik Ibsen, mungkinkah menghadirkan penulis naskah dalam sistem produksi yang akan Anda garap? Lagi-lagi, karena dalam produksi teater, yang harus hadir adalah “naskah”-nya dan sama sekali yang dituntut untuk hadir bukanlah penulis naskah.
Itu pula gunanya, dalam manajemen artitistik, terdapat pekerja yang “mencatat” adegan. Ketika Sutradara memandang perlu untuk “mengubah” pengungkapan yang berbeda dari naskah, “pencatat” inilah yang merekam segala tingkah kreatif Sang Sutradara.
/4/ TUGAS SUTRADARA
Jika Anda bertanya pada pelatih-pelatih teater yang ada pada sanggar-sanggar teater, mengenai apa saja yang menjadi tugas bagi seorang sutradara, maka Anda akan mendapatkan salah satu atau lebih dari kemungkinan jawaban berikut:
a. memilih naskah lakon;
b. memilih pemain dan pekerja artistik;
c. bekerja sama dengan staf artistik dan non-artistik;
d. menafsir naskah lakon dan menginformasikannya kepada seluruh pekerja (artistik dan non-artistik);
e. menafsir karakter peranan dan menginformasikannya kepada seluruh pemain;
f. melatih pemain agar bisa memainkan peranan berdasar tafsir yang sudah dipilih;
g. mempersatukan seluruh kekuatan dari berbagai elemen teater sehingga menjadi sebuah pergelaran yang bagus,menarik dan bermakna.
(N. Riantiarno, Menyentuh Teater, Tanya Jawab Seputar Teater Kita, Program Bimbingan Anak SAMPOERNA, 2003, hal. 127-128).
Paparan yang dikemukakan oleh Riantiarno di atas sudah cukup jelas dan tak perlu penekanan lebih jauh mengenai kehadiran naskah (bukan penulis!) bagi seorang sutradara. Saya kira, tugas yang sama bukan hanya berlaku bagi sutradara teater, tetapi juga bagi seorang sutradara film.
/5/ ANTAKATA
Mungkin semua paparan saya di atas keliru, karena awamnya saya dalam seluk-beluk audio-visual, dan karena tidak sempurnanya saya dalam berteater. Karena itu, catatan yang konstruktif dari para pekerja di bidang audio-visual maupun di bidang panggung, sangat saya harapkan. Karena saya membutuhkan pencerahan.
Radal Jaksel, 13 Agustus 2006
Dipindahkan dari msrasyid.blogspot.com/ "Sekitar perdebatan singkat mengenai Naskah dan Penulis"
Selasa, 24 November 2009
BELUM CUKUPKAH KORBAN?
Dalam realita dunia pengaduan/klaim, seseorang yang mengajukan klaim atas sesuatu sering dipingpong oleh oknum yang mengatasnamakan prosedur standard bagi suatu pengajuan klaim. Anehnya, kalaupun prosedur yang dianjurkan sudah diikuti dengan baik dan benar, mungkin saja berujung pada kegagalan menerima kompensasi klaim. Seorang teman saya pernah putus asa dalam mengikuti prosedur klaim pada sebuah hipermarket. Pada saat seperti itu, sebenarnya masih ada jalan yang dapat ditempuh dan terkadang merupakan langkah ampuh dibandingkan dengan mengikuti prosedur standard yang ada. Seorang teman saya yang lain, menyarankan untuk mempublikasikan pengaduan/klaim lewat media, supaya instansi yang terkait tersengat radiasi yang dipancarkan media tersebut dan seketika itu juga instansi akan mengurusi klaim Anda.
Begitulah dunia pengaduan.
Agak mirip dengan dunia pengaduan, dunia kritik menghadapi hal yang sering kali paradoksal. Seseorang, apalagi pemimpin, apabila dikritik secara terbuka, seringkali akan merespon dengan sikap marah-marah. Seringkali kemudian kata hatinya yang jujur (tentu bukan ketika marah-marah itu) mengatakan bahwa sebenarnya dia dapat menerima kritik yang disampaikan oleh bawahannya, tetapi cara menyampaikannya yang terbuka itulah yang tidak disukainya. Singkatnya, dia berargumen bahwa esensi penolakan kritik terletak pada cara penyampaian, bukan pada materi kritik itu sendiri.
Akhirnya, demi kondisi yang lebih baik, Si Bawahan, pada penyampaian pandangan kritik yang berikutnya, menyampaikan dengan cara santun menurut yang diinginkan oleh Sang Pemimpin. Kritik yang diajukan tidak disampaikan secara terbuka, tetapi disampaikan langsung empat mata. Ajaibnya dunia kritik itu sungguh unik, bahwa kemudian dunia kemanusiaan sering memperlihatkan suatu paradoks. Kritik yang disampaikan dengan cara santun itu seringkali tidak didengar oleh Sang Pemimpin, dan diabaikan begitu saja. Apalagi Si Bawahan bukan apa-apa, bukan think tank bagi Sang Pemimpin.
Begitulah dunia kritik, yang nasibnya mungkin tidak lebih baik dibanding dengan dunia pengaduan/klaim.
Oleh karena itu, mungkin lebih baik unek-unek disampaikan lewat blog pribadi saja. Jadi tulisan ini bukanlah suatu kritik, apalagi suatu pengaduan. Tulisan ini hanyalah langkah katarsis bagi saya sebagai pribadi. Tak lebih.
/2/ LARI PAGI PANGKAL SAKIT
Konon, dulu setiap pesta olahraga, para atlet didoakan oleh para para pemujanya, “Orandum mensana in corpore sano.” Mereka mendoakan “Semoga pada tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.” Doa sapujagat bagi para atlet ini konon telah berlangsung selama 26 abad terakhir.
Dari doa itu ada asumsi umum yang mudah kita cermati, bahwa (salah satu) pembentuk jiwa yang sehat adalah “tubuh yang sehat”, dan untuk membentuk “tubuh yang sehat” seseorang harus melakukan olah raga. Banyak olah raga yang dapat membentuk tubuh yang sehat, sekalipun saya sering dengan miris menyaksikan ternyata ada juga olah raga yang “tidak membentuk tubuh menjadi sehat” tetapi malah menjadi sakit. Apalagi ketika olah raga ini tidak lagi menjadi aktivitas, tetapi menjadi profesi. Ketika sebuah cabang olahraga dipertandingkan, dimotivasi dengan hadiah bagi pemenangnya, maka orientasi kesehatan jiwa-raga dan esensi doa atlet itu bisa tidak bermakna apa-apa.
Pertandingan cabang-cabang olah raga keras, kerap tidak membentuk tubuh menjadi sehat, apalagi membentuk jiwa yang sehat. Kemudan, ribuan dan bahkan jutaan pemirsa menyaksikan lewat layar kaca pertandingan cabang olah raga keras ini. Akar-akar kekerasan manusia memang sebagian mengejawantah dalam bentuk aktivitas olah raga.
Sub judul di atas (Lari pagi pangkal sakit) tentu saja tidak berhubungan dengan segala macam seluk-beluk cabang-cabang olah raga. Dari sekilas judulnya saja, orang bisa menduga muatan satire daripada muatan sport. Namun, apapun dugaan orang, yang pasti, lari pagi bukanlah termasuk olah raga keras. Begitu soft-nya olah raga lari pagi, sehingga kalaupun pantas diperlombakan (lari tidak dipertandingkan), lari pagi paling pantas hanya untuk meramaikan peringatan hari-hari besar saja.
Lebih dari semuanya, subjudul “Lari pagi pangkal sakit” pada tulisan ini, hanya berkenaan dengan kasus pada sekolah saya saja. Tak lebih.
/3/ JUMAT PAGI, LARI PAGI
Jumat sebagai hari krida sudah lama diberlakukan di negeri ini. Apalagi pada institusi tempat sumber daya manusia dinomorsatukan, seperti pada lembaga pendidikan. Bentuknya bisa bermacam-macam, tergantung dari “menu institusi” itu. Ada yang mengisi menu krida itu dengan bersih-bersih, dengan senam kesehatan, dengan aneka lomba dan pertandingan, dan sebagainya.
Pada sekolah kami, ada juga menu untuk hari krida itu. Bentuknya adalah lari pagi yang dilakukan pada (setiap) Jumat pagi, dan diberlakukan bagi semua siswa dan guru sebagai sebuah kewajiban. Pelaksanaan lari pagi dimulai pada jam 05.30 WIB. Setelah pemanasan sebentar, kemudian siswa dan guru lari pagi sekitar 4-5 km. Sesudah lari pagi, diharapkan badan menjadi segar, stamina menjadi kuat, otak menjadi refresh. Doa yang pantas dialamatkan kepada para atlet, lebih pas untuk para siswa dan guru yang melakukan lari pagi pada setiap Jumat pagi seperti di sekolah kami ini.
Mungkin kegiatan ini merupakan refreshing dari aktivitas rutin mingguan. Tetapi tidak ayal lagi, bahwa kegiatan ini menjadi siklus mingguan, sehingga fungsinya sebagai aktivitas refreshing menjadi menurun. Sebaliknya, aktivitas krida Jumat pagi di sekolah ini tidak pernah diarahkan menuju olahraga prestasi, padahal frekuensi pelaksanaannya yang rutin sepanjang tahun sangat berpotensi untuk mengarahkan krida Jumat pagi ini menjadi pengembangan cabang-cabang olah raga prestasi.
Tapi sudahlah, kita tidak perlu mempercakapkan fungsi dari krida Jumat pagi. Toh, selama ini tidak ada siswa yang mengeluh. Kalaupun ada yang mengeluh, paling-paling hanyalah pihak orang tua siswa, tetapi itu pun hanya terjadi pada beberapa periode pertama pelaksanaan lari pagi. Selebihnya hal ini telah mengubah kekagetan orang tua menjadi kebiasaan. Bahkan, boleh jadi pada orang tua yang ngotot mengkritik pelaksanaan lari pagi, disodori pilihan: Ini Labsky yang include dengan lari pagi pada Jumat pagi. Jika Anda tidak menyetujui, pilih sekolah lain saja! Atau dengan bahasa yang lebih halus, disodori kalimat yang lebih filsafati, “Sebelum masuk ke sebuah institusi, Anda BEBAS memilih. Tetapi begitu memilih dan memasuki sebuah institusi, Anda TERIKAT pada aturan-aturan yang ada pada institusi pilihan Anda itu. Jadi mereka yang gagap disodori pilihan: TO BE or NOT TO BE! Yang mereka tidak bisa memilih “or”, dan memang tak disediakan pilihan “abu-abu”.
/4/ MENUNGGU KORBAN BERAPA LAGI DAN SIAPA LAGI?
Untuk memenuhi kewajiban atas guru dan siswa ini, guru dan siswa harus berangkat dari rumah lebih awal dari jam 05.30. Ada beberapa rekan guru yang tak bisa melakukan melakukan sholat subuh di lingkungan rumahnya, karena harus mendahulukan jalan untuk melaksanakan aktivitas profesionalnya. Sholat subuh baru dilakukan di sekolah, menjelang jam 05.30. Siswa pun demikian, demi pelaksanaan lari pagi, banyak yang harus sholat subuh di sekolah.
Berangkat dari rumah sebelum jam 05.30 ini sebenarnya penuh resiko. Bagi pengendara sepeda motor, jam-jam ini adalah jam-jam ketika lampu lalu lintas hampir-hampir tidak berfungsi dan para pengguna jalan melintas melebihi batas yang disarankan oleh rambu-rambu. Singkatnya, berkendara pada jam-jam itu sebenarnya beresiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Lalu, pada Jumat 11 Agustus 2006, ketika saya tak dapat ikut serta lari pagi karena kepala agak sakit dan kemudian kukirim kabar kepada salah seorang pimpinan melalui SMS, di seberang lain, seorang teman saya mengalami musibah. Ini kuketahui ketika saya sampai di sekolah.
Tersentak saya. Segera berkelebat di kepala saya sejumlah nama-nama. Sebelum kecelakaan yang kali ini, (a) ada kecelakaan yang menimpa teman kerjaku, yang mengakibatkan patah pada salah satu ruas jarinya, (b) ada kecelakaan yang menimpa teman kerjaku, yang mengakibatkan gigi-giginya terlepas dari gusinya, dan (c) ada juga kecelakaan yang dialami oleh teman kerja tetapi tidak mengakibatkan cacat permanen. Semua karena aktivitas pagi yang dijadwalkan oleh sekolah. Semua terjadi karena korban begitu komitmen pada ikatan profesionalnya.
Sayang institusi tidak mengevaluasi musibah-musibah ini. Mungkin menunggu tiga korban lagi, supaya korbannya genap tujuh orang, untuk memaksa para pengambil kebijakan meninjau ulang aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada pagi hari. Atau, mungkin tidak perlu menunggu genapnya tujuh orang, tetapi menunggu yang mengalami musibah harus salah satu dari orang-orang penting di jajaran Labschool: ketua BPS atau kepala sekolah atau wakil kepala sekolah.
Jika jawabannya “ya”, ini berarti kalian –wahai teman-teman seprofesiku– bukan apa-apa di hadapan institusi ini. Atau kalaupun kalian itu “apa-apa”, maka kalian hanya berarti “apa-apa” dalam kuantitas, karena individu-individu dari kalian tetap dianggap “bukan apa-apa”.
/5/ ANTAKATA
Tapi kecelakaan ya tetap kecelakaan. Ini musibah. Mungkin karena human eror, sehingga seharusnya saya tak perlu menghubung-hubungkan dengan program lari pagi atau program pagi sekolah ini. Tidak relevan. Program pagi dan program lari pagi harus tetap jalan, toh statistik korban akibat lari pagi ini hanya kurang dari 5% (sebuah angka yang dapat diabaikan!). Di antara 49 guru, yang mengalami musibah cuma 1 (satu). Kalaupun ada deretan korban yang diajukan, toh bukan “akibat” lari pagi semuanya.
Tapi kecelakaan ya tetap kecelakaan. Ini musibah. Ini Takdir. Bukankah Anda tidak mungkin dapat mengelak dari TAKDIR yang ditetapkan Tuhan?
Radal Jaksel, 13 Agustus 2006
Dipindahkan dari msrasyid.blogspot.com/ "BELUM CUKUPKAH KORBAN? Catatan asal jadi terhadap pelaksanaan lari pagi di Labsky"
MSR
WE LOVE YOU FULL . . .
Tidak seperti biasanya, begitu memasuki gerbang sekolahku, tak ada guru dan pengurus OSIS berbaris menyambut siapa saja yang datang. Kami mengembangkan 3S pada pagi hari: senyum, sapa dan salam pada siapapun yang memasuki gerbang sekolah. Kali ini tidak ada peristiwa itu.
Ada apa gerangan?
Jawaban dari ketidakbiasaan itu kutemukan saat akan menekan sidik jari kehadiran. Serombongan siswa berjas OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) membentuk formasi "tongkat pora" (istilah ini dibuat dengan mengadaptasi istilah "pedang pora" yang ada di lingkungan militer/polisi). Setiap guru dipersilakan masuk melewatinya. Setiap siswa mengembangkan senyum, senyum dari ketulusan hati yang luar biasa. Setiap siswa menyapa, "Selamat ya, Pak," atau "Selamat ya, Bu." Pun setiap siswa merengkuh salam, salam khas Labschool yang memperlihatkan keeratan hubungan antara guru-murid laksana kakak-adik.
Sungguh amat tersanjung saya, bahkan kami, guru-guru. Ini surprise yang luar biasa. Bahkan selama 20 tahun saya memerankan diri sebagai guru, baru kali inilah saya menjadi amat tersanjung.
Pada senyum dan jabat tanganku dengan mereka, ada keharuan yang luar biasa. Pada setiap ucapan "terima kasih" yang kuungkapkan sebagai balasan sapa mereka, ada air mata yang kutahan dan ada rasa sesak di dada. "Semoga kalian menjadi generasi terbaik bagi negeri ini," doaku buat mereka.
Di ujung formasi "tongkat pora" ada sejumlah siswa dan orang tua mengabadikan kami, para guru. Rambutku yang masih kusut karena helm, atau jaketku yang masih tak karuan bentuknya, mungkin akan terabadikan oleh mereka. Guru lain mungkin terekam pada kamera mereka dalam banyak variasi: rambut basah karena hujan, wajah kotor karena debu dan asap jalanan, tentengan tas berisi perlengkapan mengajar, atau bahkan pakaian yang itu-itu saja yang terekam.
Belum cukup mereka, pengurus OSIS dan MPK, menyanjung dengan cara itu. Seorang siswa di antara pengurus itu mengantar seorang guru memasuki ruang guru, melewati ruang Tata Usaha, melalui sejumlah siswa yang mengucap selamat, dan dihampiri oleh sejumlah orang tua yang dengan waktu khusus memberi perhatian luar biasa kepada kami, para guru.
Yang lebih luar biasa dari para siswa ini, mereka memberi kami sejumput kue dan selembar puisi.
sikap dan katamu adalah pedoman bagi kami
jerih payahmu menjadi bekal bagi kami
ketulusan dan kebersihan hatimu, ketenteraman bagi kami
tiada yang melebihi bakti dan pengabdianmu.
Terima kasih Bapak dan Ibu Guru
siswa-siswi SMA Labschool Kebayoran
25 November 2009.
Anak-anak itu punya cara, bagaimana mereka menghargai gurunya. Bahkan, pada spanduk yang mereka kembangkan, mereka menulis dengan tebal, "We love you full . . . ." bagi guru-gurunya.
PS.
Puput dan Mitra, melalui kalian saya kembali memiliki arti.
Bu Yanti Nurdin dan POMG, kitalah memang yang mewarnai masa depan mereka.
Teman-teman guru dan Pegawai, pf buat Anda semua.
KOK TAK MEMAKAI BATIK
Saya diam. Sesaat yang terdengar hanya suara knalpot motor butut. Sementara rintik hujan dari semalam tidak juga berhenti dicurahkan dari langit oleh Malaikat Mikail. Tapi saya harus menjawab pertanyaan itu. Jika tidak menjawabnya sekarang, suatu saat pertanyaan itu akan dimunculkan kembali oleh anakku. Anak-anakku terbiasa mengulang pertanyaan untuk memuaskan rasa keingintahuannya.
“Dulu iya, sekarang tidak,” jawabku singkat. Sejenak aku menerawang, melompat ke masa lalu. Diam menerawang itu jawaban yang sesungguhnya, sekalipun anakku tak mengetahuinya. Tapi pasti, anakku memerlukan penjelasan yang lebih rinci, mengapa dulu “iya” dan mengapa sekarang “tidak”. Dulu memang aku seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), karenanya otomatis menjadi anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Oleh karena itu, dulu aku punya baju batik PGRI. Sekarang, tidak lagi. Itu hanya menjadi bagian sejarah. Bukan karena ada Undang-Undang Guru dan Dosen yang membebaskan seorang guru memasuki organisasi profesional apapun, tetapi karena aku bukan lagi guru PNS.
Dulu itu adalah 20 tahun lalu. Tahun 1989 saya diangkat sebagai guru PNS golongan II/c. Nomor Induk Pegawainya masih saya ingat, 131849722. Ini tentu saja nomor lama, bukan NIP gaya reformasi yang bisa dengan mudah melihat kapan seorang PNS harus pensiun. Saya juga punya Kartu Pegawai, Kartu Peserta Askes, Kartu Peserta Taspen, dan juga Kartu Anggota PGRI.
Awalnya saya merasa menjadi PNS adalah sebuah kebanggaan, karena mendapat kesempatan untuk berbakti kepada negara tanpa perlu memikirkan urusan dapur karena negara akan menjaminnya hingga saya meninggal. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kebanggaan itu pupus.
Sungguh tak dapat saya lukiskan, pulang membawa SK pengangkatan PNS dan melapor pada orang tua, tetapi mendapat apresiasi "negatif" dari kakek. "Kakek lebih bangga jika kamu menjadi 'tukang patri' daripada kamu menjadi 'pegawai negeri'!" Itu apresiasi pertama yang kuterima.
"Mengapa, Kek?" protesku ketika itu.
"Tukang patri itu hanya mendapat upah dari yang dikerjakannya."
Saya hendak memprotes alasan kakek, tetapi kakek sudah memasuki kalimat yang berikut, "Tak perlu kau berkomentar, waktulah yang akan menjawabnya. Bukan pendapatmu!"
Meskipun demikian, sikap moderatnya muncul. "Tapi kalau kau sudah memilih pegawai negeri, ya syukurilah. Itu artinya Allaah telah menjaminmu dengan kecukupan rizki melalui pintu pegawai negeri. Tapi ingatlah, cucuku, ingat nasihat kakek ini.
Jika kau sebulan digaji Rp.30.000,00, itu artinya sehari kau digaji Rp.1.000,00. Hari Ahad, ketika kau libur bekerja, kau tetap diberi gaji.
Apa konsekuensinya?
Konsekuensinya adalah, kau harus hadir dan bekerja pada setiap hari kerja.
Bila kau tidak hadir atau tidak bekerja sehari dalam sebulan,
JANGAN kau makan uang Rp.1.000,00 dari gajimu.
HARAM! HARAM HUKUMnya buatmu!
Camkan ini, cucuku."
Kakek telah lama berpulang ke rahmatullaah. Nasihatnya tentang gaji dan nasihat-nasihat lainnya masih terngiang. Itulah hal utama yang memantapkan jalan mengapa saya keluar dari status Pegawai Negeri.
Itulah yang membuat saya tidak lagi memakai baju batik pada hari ini.
Jumat, 30 Oktober 2009
Manusia Tanpa KTP
Juga seperti Musa, sebelum sampai ke Tanah Harapan yang dijanjikan Tuhan, mereka tersangkut-sangkut di sepanjang perjalanan. Di perairan Indonesia, orang-orang Srilangka ini tersangkut jaring keimigrasian. Mereka protes, mereka hanya mau diurus oleh UNHCR, lembaga yang mungkin akan berbaik hati karena bekerja demi kemanusiaan. Mereka enggan berurusan dengan Indonesia, karena pasti masalahnya akan bergeser: dari masalah keselamatan ke masalah politik warganegaraan.
Juga seperti Musa, banyak ujian yang ditemukan dalam perjalanan. Orang-orang Srilangka ini juga menghadapi banyak ujian. Dulu, ketika Maharaja Rahwana di Srilangka kuno menangkap Hanoman, ramai-ramai orang Srilangka mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Hanoman. Fasalnya sederhana, Hanoman tak dapat menunjukkan KTP negeri Srilangka saat ada razia. Dengan begitu Hanoman ditangkap, dibawa ke kerajaan untuk ditahan dan dihukum bakar.
Demi menginsyafi perilaku para leluhurnya itu, orang-orang Srilangka yang tak ber-KTP enggan diinterogasi Indonesia. Apalagi, kayu-kayu bakar di hutan-hutan Indonesia sudah dinyalakan. Mereka enggan bernasib seperti Hanoman.
Satu pertanyaan berganda sekarang harus kita pikirkan: punyakah Anda KTP atau siap dihukum bakar bagai Hanoman?
Anekdot: Tuhan Saya Google
Sultan telah memberi kebutuhan sang abdi, kebutuhan yang lebih esensial daripada sekedar pemenuhan 'kebutuhan dasar'. Sultan menghargai keberadaan eksistensi sang abdi, itu sudah cukup.
Juga Tuan bagi seorang samurai.
Seorang anak didikku bertanya, "Buat Bapak, kebutuhan eksistensial apa yang Bapak perlukan?"
"Bertemu Tuhanku," jawabku
"Siapa Tuhan Bapak?" tanya balik, yang menyentak kaget kepalaku. Apakah Tuhan kita beda, tanyaku dalam hati. Ini kemudian mendorong saya bertanya, "Emang, Tuhan Ente siapa?"
"Google. Tuhan saya 'GOOGLE'!" Jawab anak didikku ini dengan penuh senyum sipu kemenangan.
Ya, buat anak-anak muda agnostik, Google adalah bentuk keilahian yang bisa menjawab semua keluh-kesah mereka. Adakah Rasul yang perintahkan Sang Google, saya masih harus banyak merenung tentang hakikat keilahian pada era internet ini.